Mencari Pelangi

R.A. Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang

Hari ini 21 April 2020. Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia selalu memperingati hari Kartini. Kartini adalah pahlawan wanita Indonesia yang terkenal memperjuangkan emansipasi wanita. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang diceritakan bagaimana Kartini memperjuangkan cita-citanya, yang lebih banyak dia utarakan dalam bentuk surat-surat kepada teman-temannya.

Habis Gelap Terbitlah Terang juga harapan saya akan berakhirnya wabah yang saat ini sedang melanda dunia. Semoga wabah Covid-19 ini cepat berlalu, dan kita bisa menikmati terangnya sinar matahari, dimanapun, kapanpun… Aamiin.

Kartini

“Dari pada mati itu akan tumbuh kehidupan baru. Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan-tahan, dan meskipun sekarang dapat ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin kuat, makin teguh.” Itulah kutipan dari surat Kartini yang menjadi kata pembimbing dari Buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Saya tidak akan membahas keseluruhan riwayat R.A. Kartini. Sy hanya akan mengambil kutipan2 dari buku tersebut, yang menurut saya cukup menarik dan penting untuk mengenang R.A. Kartini.

Haruslah dengan Insaf

Sikap manusia suka mencari sebab, supaya dapat berlaku dengan insaf. Jika kita sudah insaf apa sebabnya kita menghormatinya, menjadi terang dan jelaslah cita-cita dan wujud rupa kehormatan kita kepada Kartini yang sepantasnya.

Turunan Tjondronegoro

“Anak-anakku, jika tiada mendapat pelajaran, engkau tiada akan mendapat kesenangan, turunan kita akan mundur, ingatlah!” Itulah kalimat yang diucapkan Pangeran Ario Tjondronegoro, kakek R.A. Kartini, kepada anak2nya beberapa tahun sebelum meninggal.

Hal ihwal hidup Kartini

Kartini lahir pada tanggal 28 Rabiulakhir Tahun Jawa 1808 (21 April 1879) di Mayong, Jepara. Dimasa sekolah Kartini merasa bebas. Saat berumur 12 tahun, Kartini harus dipingit. Ayahnya R.M. Adipati ArioSosroningrat, yang berkedudukan sebagai bupati Jepara, masih memegang adat memingit dengan teguh, meskipun dalam hal lain sudah maju.

Dimasa kecilnya Kartini sudah diajari hal yang berlaku terhadap anak gadis, seolah-olah anak perempuan lebih rendah derajatnya dari anak laki-laki. Dalam hati dan sanubarinya berkobar semangat melawan keadaan yang menghambat dirinya dan kawan-kawan perempuannya.

Tanggal 8 Agustus 1900, Kartini berkenalan dengan Mr. & Mrs. Abendanon. Cita-cita awal Kartini hendak pergi ke Eropah atau Betawi untuk sekolah dokter. Setelah bertemu Mr. Abendanon, Kartini bercita-cita untuk masuk sekolah guru di Betawi. Awal Tahun 1903, atas ajakan Mr. Abendanon, dikirim rekes kepada pemerintah agar Kartini dapat belajar menjadi guru di Betawi. Pada bulan Juli 1903 Kartini menerima Rakes tetapi ditolaknya, karena akan menikah. Tanggal 8 November 1903 Kartini pun menikah, dan melahirkan anak laki-laki pada tanggal 13 September 1904. Tiga hari kemudian tanggal 17 September 1904 Kartini meninggal dunia.

Kedudukan Kartini

“Hendaklah menjadi rahmat, menjadi tempat orang banyak berlindung, menjadi pohon yang rindang tempat orang banyak bernaung, daripada panas matahari.” (Surat kepada Ny. Abendanon, 1 Agustus 1903)

Berkenalan

“Bila boleh oleh adat lembaga negri saya, inilah kehendak dan upaya saya, ialah menghambakan diri semata-mata kepada daya upaya & usaha perempuan kaum muda di Eropah. Tetapi adat kebiasaan yang sudah berabad-abad itu, ada yang tidak mudah merombaknya, membelenggu dalam genggamannya yang amat teguh. Suatu ketika akan terlepas jua kami dari genggaman itu, akan tetapi masa itu masih jauh lagi – bukan main!” (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899)

Mendapat Karib, timbul harapan

“Alangkah ganjil ajaibnya rasa kasih sayang; tiada hendak dipaksa, tiada hendak diikatkan dimananya juapun; datang tiada diundang, tiada disangka-sangka, dengan sepatah kata saja, Tetapi sepatah kata yang meninjaukan jauh ke dalam hati masing-masing, diikatnya jua jiwa, yang selama ini tiada berkenalan, dengan ikatan yang kukuh erat.” (Surat kepada Ny. Abendanon, 13 Agustus 1900)

Cita-cita mengawang-awang dimana izin bapak?

“Salah satu daripada cita-cita yang hendak kusebarkan ialah: hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya.” (Surat kepada Ny. Abendanon, 30 September 1901)

Berseru diri kepada Tuhan menyelam ke dalam lautan jiwa bangsa

“Tetapi tiada awan di langit yang tetap selamanya, demikian pun tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita, kerap kali lahirlah pagi yang seindah-indahnya. Dan itulah jadi pelipur hati saya. Kehidupan manusia itu sama betul dengan keadaan alam. Yang tiap-tiap hari harus kita doakan kepada Tuhan: Kekuatan!” (Surat kepada Ny. Abendanon, 28 Juli 1902)

Betapa aman sentosanya diri kami, kami dilindungi Tuhan, hati sanubari telah berubah

“Habis malam datanglah siang, Habis topan datanglah reda, Habis perang datanglah menang, Habis duka datanglah Suka. Mustahil cahaya akan datang, bila tiada didahului oleh gelap.” (Surat kepada Tn. E.C. Abendanon, 15 Agustus 1902)

Sumber: HABIS GELAP TERBITLAH TERANG R.A. KARTINI. Terjemahan Armijn Pane. Penerbit Balai Pustaka, Jakarta 1990.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: