Mencari Pelangi

Memahami HAMKA : The Untold Stories

HUBBUL WATHAN MINAL IMAN, Cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Dalam salah satu karyanya, Lembaga Hidup, Hamka sangat tegas menyatakan, “Bersatu bangsaku menyeru Tuhan, memohon tanah air memperoleh kejayaan. Terdengar azan di puncak Menara, hayya alal falah, marilah kita menuju kemenangan. Aku bersama bermiliun bangsaku pergi ke sana, mencecahkan dahi ke lantai menyembah Tuhan. Sehabis shalat aku memohon kepada Tuhan agar tanah airku diberkati.”

Pada 1 Januari 1968, bertepatan dengan 1 Syawal 1387 H, HAMKA diberi kesempatan memberikan khutbah Hari Raya Idul Fitri di Istana Negara. Tema khutbahnya adalah “Pancasila Akan Hampa Tanpa Ketuhanan Yang Maha Esa.” Hamka menyampaikan bahwa, “ Ketuhanan Yang Maha Essa merupakan dasar hidup warga negara Indonesia yang pertama, baik dalam beragama maupun bernegara. Kemudian, dengan sendirinya, apabila Ketuhanan Yang Esa sudah diimani atau dipercayai sungguh-sungguh, pastilah tumbuh satu demi satu sila yang lainnya.”

Jika warga negara Indonesia sudah percaya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, maka dengan sendirinya pasti logis dan wajar, jika tumbuh dasar kedua, yaitu Perikemanusiaan. Sebab, Islam mengajarkan bahwa seluruh manusia ini adalah umat yang satu.

Menurut Hamka, Persatuan Indonesia dibangun atas dasar keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah mengajarkan bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.

Menurut Hamka, barangsiapa yang mengaku Percaya Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan sendirinya dia pasti percaya pada kedaulatan rakyat, kedaulatan manusia. Manusia diberi kebebasan memilih bentuk pemerintahan menurut susunan yang mereka kehendaki, menurut kemajuan zaman dan tempat, dengan satu dasar yang tetap, yaitu musyawarah, atau yang selama ini lebih dikenal istilah demokrasi.

Menurut Hamka, sila “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyar Indonesia” tidak lain merupakan sebuah kewajiban untuk bersikap adil dan berlaku kepada siapa saja, baik masyarakat, pejabat negara, tak terkecuali kepada presiden.

Dalam karyanya Pribadi Hebat, Hamka memberikan sebuah penegasan tentang pembentukan kepribadian. “Hendaknya ada pada diri kita suatu daya penarik yang menyebabkan jiwa orang yang dekat dengan kita tetap kekal, sehingga timbul hubungan yang kekal, bukan karna dipaksakan atau dibuat-buat. Dengan apa kita membuat orang menjadi tertarik? Dengan budi yang tinggi, kesopanan, ilmu pengetahuan yang luas, kesanggupan menahan hati pada perkara yang belum disepakati, dengan kecerdasan, kecepatan menarik kesimpulan, kebagusan susunan kata, kepandaian menjaga perasaan orang dan kesanggupan menenggang.”

Nunu Burhanuddin dalam Konstruksi Nasionalisme Religius Relasi Cinta dan Harga Diri dalam Karya Sastra Hamka, menerangkan bahwa roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan salah satu karya sastra yang mengangkat tema kebangsaan religious. Karya tersebut mengangkat nasionalisme dan dipadu dengan nilai-nilai keagamaan. Hal ini bisa dibuktikan dengan dua hal. Pertama, nasionalisme Hamka adalah nasionalisme inklusif, tidak ekslusif, dan tidak fanatic atau chauvinistic. Kedua, melalui roman Tenggelamnya kapal Van der Wijck, Hamka juga menggambarkan nasionalisme sebagai paham anti-diskriminasi.

Rusydi Hamka dalam Pribadi dan Martabat Buya Hamka, “….Hamka juga memberikan penjelasan bahwa menghadiri perayaan hari besar antar umat beragama adalah wajar-wajar saja, asalkan bukan yang bersifat peribadahan, seperti ikut melakukan Misa, Kebaktian, dsb. Sebab, bagi orang Islam, menghadiri acara-acara yang bersifat peribadahan agama lain yang bersifat ritual seperti itu, jelas-jelas dilarang karena mengarah pada perbuatan menyekutukan Allah Ta’ala. Namun, jika orang Islam menghadiri upacara keagamaan pemeluk agama lain yang “hanya” bersifat seremonial, dan dalam rangka untuk menghormati undangan pemeluk agama lain, hal itu masih diperbolehkan, dengan catatan tidak mengikuti acara-acara yang bersifat ritual”.

Sampai saat ini, masih banyak pihak yang menyangka jika fatwa MUI itu mengharamkan umat Islam mengucapkan selamat Natal dan menghadiri perayaan Natal umat Kristiani. Padahal, sejatinya fatwa itu hanya menyebutkan bahwa haram bagi umat Islam menghadiri perayaan Natal yang diselenggarakan oleh umat Kristiani.

KH. Abdurrahman Wahid dalam buku Hamka di Mata Hati Umat, memuji sosok Hamka: “Jika ingin dirumuskan secara bersahaja, letak kebesaran Buya Hamka adalah pada kemampuannya menjadikan diri berharga dan berarti bagi aneka ragam manusia melalui sikap yang sangat positif dan konstruktif. Ia menghargai manusia lain secara tulus.”

Dalam buku setebal 577 halaman ini, Penulis menggambarkan sosok Buya Hamka dari berbagai nara sumber, sangat sesuai dengan judul bukunya “memahami HAMKA”. Kisah Buya Hamka diceritakan cukup seru dan ringan dibaca. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman dan pandangan hidup Buya mengenai pemahaman agama, kebangsaan, sosial, budaya serta Pendidikan.

Sumber: Memahami HAMKA, The Untold Stories, Haidar Musyafa, Penerbit Imania (Pustaka IIMaN Group), Cetakan I, September 2019.

One comment

Leave a Reply to Priti Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: